PT WIN Stop Operasi: Terjadi PHK Massal, Warga Mohon RKAB Segera Keluar, Harap Keberlanjutan

Nampak dukungan masyarakat agar PT WIN tetap beroperasi. Foto: Istimewa

KONAWE SELATANLINGKARSULTRA.COM – Penghentian operasional PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di Kabupaten Konawe Selatan membawah dampak negatif.

Selain ribuan karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah lingkar tambang kini ikut terjerat kesulitan ekonomi akibat sepinya pembeli.

Kehadiran perusahaan pertambangan berbendera PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di daerah Torobulu, Konawe Selatan ternyata banyak memberi dampak positif terhadap masyarakat yang berada di sekitar kawasan lingkar tambang.

Management PT WIN memberikan bantuan berupa sembako untuk masyarakat Torobulu yang diterima langsung Kades Torobulu, Nilham. Foto: Istimewa

Beberapa desa di lingkar tambang PT WIN, yang tersebar di dua kecamatan yakni Laeya dan Palangga Selatan sangat menggantungkan hidupnya di perusahaan tersebut

Bagi mereka PT WIN adalah sumber hidup dan layak untuk didukung keberadaannya.

Pemdes: Ekonomi Warga Sangat Terpukul

Kepala Desa Torobulu Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan, Nilham mengungkapkan sejak tidak diperpanjangnya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) PT WIN dirinya melihat warganya sangat kesulitan dari sisi ekonomi

“Kami sebagai Pemerintah Desa melihat ini memang sangat memprihatinkan dimana dengan tidak terbitnya RKAB ini tentu sangat mempengaruhi aspek kehidupan yang ada di Desa Torobulu, utamanya dari sisi ekonomi, sosial juga dan hal lainnya,” cerita Nilham melalui pesan WhatsAppnya, Minggu (16/8/2026).

Nilham berharap proses penundaan RKAB ini tidak berlangsung lama. Ia menilai pemerintah yang memiliki hak dan kewenangan menyangkut perpanjangan RKAB.

“Yang harus dilihat dan dipikirkan masyarakat utamanya eks karyawan kebingungan mau mencari lapangan kerja dimana,” tanya Nilham kepada pemilik RKAB.

Kepala Desa Torobulu, Nilham (ujung kanan) bersama warga. Foto: Dok. Nilham

Kata dia sementara dari pemerintah sendiri belum ada alternatif PHK ini untuk tempat bekerja. Tentu dengan kondisi ini betul-betul sangat mempengaruhi ekonomi, dimana saat perusahaan beroperasi perputaran ekonomi sungguh luar biasa.

“Setelah PHK ini masyarakat sudah mulai kebingungan. Ini pun kurang lebih satu bulan, kalau sudah dia bulan tiga bulan kedepan tentu sangat tercekik apalagi tidak ada alternatif pekerjaan lain yang dapat mereka kerjakan,” pintanya.

Dirinya berharap pemerintah yang memiliki kewenangan benar-benar memikirkan efek dari penundaan RKAB ini. Sehingga tidak membuat gejolak baru dilingkar tambang. Karena betul-betul kondisi ekonomi masyarakat belum siap dengan kondisi seperti sekarang ini.

Pelaku UMKM: Penghasilan Anjlok Drastis

Hal sama dirasakan, Melan selaku pedagang kecil di lingkar tambang Desa Torobulu, ia membandingkan penghasilannya sehari waktu masih jalan tambang dan pasca tambang ditutup.

“Kacian pak. Setelah tutup tambang penghasilan menurun. Syukur sekali mi kalau ada pembeli mana suamiku kena PHK juga,” cerita Melan melaui sambungan telepon dengan suara lirih.

Ibu satu anak ini harus putar otak bagaimana caranya bisa mencukupi kebutuhan sehari – hari. Beban itu semakin berat karena harus memikirkan juga biaya pendidikan anak.

Dirinya yakin dia bukan satu-satunya ibu rumah tangga dan pedagang kecil yang merasakan hal serupa.

“Terus bagaimana kalau rumah tangga yang banyak anaknya. Pasti lebih banyak biaya yang keluar,” tuturnya.

Kata dia, di tempatnya yakni di Desa Torobulu hanya dua mata pencaharian nelayan dan pekerja tambang. Selain itu tak ada lagi.

“Kalau yang tidak tau jadi nelayan otomatis nganggur. Kayak suamiku tidak bisa sekali jadi nelayan akhirnya tinggal di rumah nganggur. Jadi pembeliku hanya berharap ke nelayan itupun kalau mereka dapat kalau tidak dapat apa mereka mau belanja,” bebernya.

Ia memohon agar tambang segera buka kembali. Pemerintah segera mengeluarkan RKAB agar ekonomi cepat pulih seperti dahulu.

Menurutnya pemerintah tak perlu egois. Bayangkan 1 RKAB ada ratusan bahkan ribuan orang mengantri untuk hidup dan menggantung nasibnya.

Tak ada pilihan lain selain bertahan dari ketidakpastian menanti kapan tambang operasi kembali.

Kini jalan nampak sepi roda ekonomi terus menurun. “Tak ada lagi harapan kalau begini terus kasian. Dulu kami menjual sangat semangat. Sekarang terpaksa karena tidak ada jalan lain,” jelas wanita 39 tahun itu sembari menutup teleponya.

Eks Karyawan: “Serasa Tulang Tidak Tersambung

Keluhan itu juga datang dari salah satu eks Karyawan PT WIN yang terkena PHK Massal, Marno tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

Eks Karyawan PT WIN, Marno. Foto: Istimewa

Ia bercerita meski sebagai buruh tambang di PT WIN tapi ia syukuri masih bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

Namun setelah ada pemberitahuan surat  PHK dari Managemen PT WIN akibat tidak keluarnya RKAB serasa tulangnya tidak tersambung.

“Setelah saya dapat informasi ada PHK serasa air mataku kayak mau jatuh. Karena langsung saya berpikir di mana lagi kasian mau kerja,” curhat Marno kepada Lingkarsultra.com, Senin (17/8/2026).

Ia memohon agar petinggi – petingi di negeri ini bisa melihat masyarakat yang di bawah.

“Kalau tidak bisa beri kami langsung uang setidaknya bukakan kami lapangan pekerjaan,” pintanya.

Ia sangat merasakan dampak berhentinya operasi PT WIN bukan hanya dirinya tapi juga kelurganya bahkan kios – kios kecil yang ada di Desa Labokeo Kecamatan Laeya Konawe Selatan.

“Dulunya saya masih kerja masih bisa pergi mengutang di kios tetangga nanti habis gajian baru bayar, tapi sekarang tidak bisami karena tidak adami gaji,” jelasnya.

Namun ia masih berharap agar PT WIN cepat keluar RKABnya agar bisa kembali kerja. Yang ia pikirkan kebutuhan keluarganya, cicilan yang sebentar lagi jatuh tempo dan biaya tagihan BPJS.

“Saya punya dua anak yang satu SMP dan yang satu TK istri ibu rumah tangga biasa. Saya sebagai tulang punggung keluarga. Terus saya bingung mau kemana tidak bisa juga kerja berat akibat kecelakaan kerja,” tutupnya.

PT WIN Resmi PHK 10 Agustus 2026

Diketahui PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) mulai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawannya terhitung Senin, 10 Agustus 2026.

Keputusan tersebut diambil setelah perusahaan berbulan-bulan menunggu persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang hingga kini belum diterbitkan.

Pemberian bantuan pendidikan oleh Managemen PT ke beberapa pelajar lingkar tambang. Foto: Istimewa

Perusahaan menyatakan kondisi keuangan semakin berat karena kegiatan usaha tidak dapat berjalan normal, sementara kewajiban terhadap karyawan dan operasional perusahaan tetap harus dipenuhi.

Dalam surat yang ditujukan kepada seluruh karyawan, manajemen PT WIN menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan langkah sulit setelah berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan hubungan kerja.

“Per tanggal 10 Agustus 2026 kami umumkan akan dilakukan PHK karyawan PT WIN. Kami mohon maaf atas keputusan yang kami ambil ini. Memang ini keputusan yang berat dikarenakan kondisi perusahaan saat ini sangat berat,” demikian isi surat manajemen tersebut.

REDAKSI